Lika-Liku Perjalanan Cinta

Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Secret Love




Secret Love Chapter 1

Karya : Choi Yeonhee / Anggieta AP

Maudy. Itu namaku. Gadis SMA tinggi, cantik (narsis banget!), pendiem, dan cuek. Aku punya sahabat yang juga teman sebangkuku, Mia. Aku dan dia punya nama panggilan. Aku Momo dia Mimi. Lucu, kan? Aku suka banget nyanyi. Aku juga kursus gitar. Dan aku juga punya banyak lagu ciptaanku sendiri. Hebat, nggak?
“Mo, ke kantin, yuk!” Ajak Mia,
“Malas Mi…” Jawabku sambil menyenderkan kepala di atas meja,
“Ayo! Nanti aku beliin permen, deh!” Tawar Mia penuh harap.
Aku tersenyum kecil, “Memangnya aku ‘Candy’ kayak kamu?” Candy adalah nama julukanku untuk Mia karena ia suka banget sama yang namanya permen, “Yasudah, ayo!”
Kami melangkah menuju kantin. Rupanya Mia hanya ingin membeli permen lollipop. Julukan ‘Candy’ ternyata sangat cocok untuknya! Ia memberiku satu. Aku pun menerimanya dengan malas. Kami kembali ke kelas.
Sungguh masa SMA yang membosankan!
---oOo---
Duk! Terdengar suara buku dibanting. Ternyata Idon yang duduk di belakang Mia. Ia memukul Mia dengan buku catatannya (Pelan). Mia pun berbalik dan mengomeli Idon. Pemandangan yang tak asing bagiku.
Idon. Iya, benar Idon. Ia adalah satu-satunya orang diantara lautan manusia di sekolah ini yang tak membuatku bosan. Matanya yang indah membuatku ingin terus memandangnya. Segala yang ada pada dirinya benar-benar sempurna! Hidungnya mancung, bibirnya terikir indah, telinganya sempurna, dan rambutnya, model yang sangat kusukai.
Benar. Kalian benar. Aku memang menyukainya. Ia yang membuatku ingin pergi ke sekolah. Ia yang membuatku semangat di kelas. Dan ia yang membuatku dapat merasakan indahnya cinta. Ia juga yang membutku ingin terus menjalani hidupku ini. Tak pernah bibir ini mengatakan perasaan ini padanya. Hanya mata yang dapat mengutarakannya.
“Don, kerjain tugasmu! Jangan menjahiliku terus..!” Ucap Mia kesal. Tapi Idon hanya tertawa.
Mungkin itu hanya cinta 1 sisi. Sisi lainnya belum terbangun. Atau mungkin tidak akan pernah terbangun. Tawa itu. Pancaran mata itu. Terungkap sudah. Sisi itu sudah terbangun. Tepat di hadapan Mia. Aku merasakan 2 perasaan yang berlainan. Senang karena Mia telah menemukan cintanya. Dan sedih karena tahu cintaku bertepuk sebelah tangan. Rasanya ingin menangis dan tertawa.
Tuhan, cobaan apa yang sedang kau berikan?
---oOo---
“Anak-anak, sebelum memulai pelajaran, saya akan mengenalkan siswa baru!” Ucap seorang guru di dalam kelas. Membosankan. Memangnya ia kira kita ini masih SD?
Tak lama masuklah si ‘Anak baru’. Aku terus menulis lagu tanpa memperhatikannya. Lagi pula, untuk apa aku memperhatikannya? Tak ada manfaatnya untukku!
“Perkenalkan, namaku Vino. Vino Candradinata…” Ucap anak baru itu.
Tanganku berhenti bergerak. Badanku membeku. Vino? Vino Candradinata? Apa benar dia? Tidak mungkin… bagaimana bisa dia kesini? Huh, perlu kalian ketahui, Vino itu… dia, cinta pertamaku! Terdengar konyolkah? Mungkin, karena dia benar-benar bukan tipeku. Boleh saja dia tampan dan keren. Tapi sebenarnya sombong, sok tampan, over PD, dan menyebalkan. Entah kenapa aku bisa menyukainya. Apa dulu aku sebodoh itu?
Mimpi apa semalam sampai aku bisa bertemu dengannya? Aaarrgghh… benar-benar sial aku hari ini! Aku mengangkat kepala untuk memastikan dia bukan Vino itu. Akhirnya mata kita bertemu. Benar. Sudah tak bisa menghindar lagi. Tak bisa…
Ia duduk di depanku. Aku berusaha menutup mukaku dengan sebuah buku. Aku bisa melihat ia berbalik. Dengan senyuman yang (tidak) manis, ia memandangku.
“Aku rasa aku mengenalmu,” Ia mengambil buku yang menutupiku, “Benar. Kau. Maudy, benar?”
Aku meutar bola mataku, “Memang kenapa kalu iya?”
“Ternyata kau sudah berubah!” Ucapnya,
“Kau mengenalnya, Mo?” Tanya Mia,
“Kau belum tahu? Maudy belum pernah menceritakanku?” Tanya Vino yang dibalas gelengan Mia, “Aku cinta pertamanya!”
Oh tidak. Terlambat sudah. Kenapa ia memberitahu Mia?!
“Beneran?” Tanya Mia tak percaya, “Beneran Mo?”
Terpaksa aku menganggukkan kepala, “Ya…, tapi itu hanya masa lalu!”
“Ehem! Jangan-jangan nanti ada yang CLBK, nih!” Ledek Mia,
“Impossible!” Balasku, “Itu hanya akan terjadi di imajinasimu saja!”
“Cepat kerjakan tugas! Jangan melihat ke belakang terus!” Bentakku,
“Oh ya, kita belum berkenalan. Namaku Mia, sahabat Maudy!”
“Oh kau sahabatnya?” Vino memastikan, “Mau kuceritakan betapa ia tergila-gila padaku dulu?”
“Diamlah!” dia sudah kelewatan batas!
Ucapan Mia membuatku semakin kesal, “Kau boleh menceritakannya padaku nanti.”
“MIA!!”
---oOo---
“Bagaimana bisa orang menyebalkan seperti dia bisa mejadi penyerang yang handal?” Ucap Mia tak percaya saat Idon mencetak poin di lapangan basket (indoor).
Aku dan Mia sedang berada di pertandingan basket Idon. Sebenarnya aku malas kesana karena ada Vino. Tapi karena rengekan Mia, aku terpaksa pergi. Aku mengenakan topi abu-abu untuk mengelabuhi Vino. Tapi ternyata tak ada gunanya. Ia langsung menyapaku saat kami datang.
Saat istirahat, Idon berlari menuju bangku cadangan untuk memina air. Mia pun datang sambil membawa sebotol air putih. Idon tampak senang. Begitu pula dengan Mia. Tiba-tiba ada seseorang yang duduk di sampingku. Ah, Vino!
“Kau lagi!” Seruku kesal, “Kenapa kau selalu mengikutiku?!”
“Kau saja yang selalu ada di mana pun aku pergi!” Alibinya,
“Alasan saja kau!”
“Kau menyukainya?” tiba-tiba, ia mengubah topik.
Aku memandangnya bingung, “Menyukai siapa?”
“Penyerang itu. Idon. Kau menyukainya, kan? Jujur saja…” Ia terus menanyaiku,
“Memangnya aku kurang kerjaan apa, menjawab pertanyaan konyolmu itu?” Aku merasa mukaku menjadi panas, “Mengapa kau kepo sekali tentang kehidupanku?
Senyum di bibir Vino menghilang, “Jujur saja… aku akan merahasiakannya!”
“Benar. Aku meman menyukainya!” Oh tidak. Apa yang barusan kukatakan? Aku segera menambahkan, “Tapi dalam waktu dekat, rasa itu akan sirna!”
“Kau masih puitis. Memangnya kenapa?” Tanyanya,
“Kar…” Tunggu! “Hei! Kenapa aku jadi menceritakan ini kepadamu? Sudahlah, cepat turun!”
Aku masih punya banyak waktu!” Jawabnya sambil menunjuk jam tangannya, “Katakanlah alasannya. Atau kau mau aku prmalukan di sekolah dengan berkata kau menyukai Idon?”
“Jangan!” Jawabku, “Kau ini, selalu saja bisa mengancamku. Baiklah, aku akan mengatakannya!”
“Aku memang menyukainya. Tapi dia tidak meyukaiku. Tidak akan pernah bisa!”
“Kau tahu dari mana?”
“Lihat saja dia!” Ucapku seraya menunjuk Idon dan Mia, “Idon menyukai Mia. Dan kelihatannya Mia juga begitu,” Setetes Kristal bening  keluar dari mataku,
“Jangan menangis. Mia akan khawatir.” Ucapnya, “Kau punya air?”
Aku mengambil air dari tasku, “Ini!” Aku pun menyodorkannya pada Vino.
Ia menerimanya dengan senang hati, “Thank’s!”
---oOo---
Siang ini matahari bersinar dengan terik. Aku mengambil gitar dan melangkah menuju balkon kamarku. Memainkan senar gitar. Terkadang, menyanyikan sebuah lagu.
“Momo!” panggil seseorang yang sedang mengulum permen di teras. Ia adalah Mia.
“Mia, masuk saja!” Entah kenapa, kakiku terasa lumpuh untuk membukakan pintu untuknya,
“Hai!” Sapaku saat ia berjalan menuju balkon,
“Aku ingin menceritakan sesuatu padamu!” Ucapnya,
“Apa?” Tanyaku.
Ia segera duduk di sampngku, “Aku sedang menyukai seseorang!”
“Oh ya?”
Ia menganggukan kepala, “Kau tahu siapa?”
“Memangnya siapa?”
“Idon!”
Jantungku serasa berhenti berdetak. Pandanganku membeku. Dengn susah payah, aku menahan air mata.
“Aku baru sadar kalau aku menyukainya!” Ujar Mia, “Kira-kira Idon punya perasaan yang sam ga, ya?”
Aku terdiam. Sulit untuk mempercayai setiap kata Mia.
“Mo?” Mia menyadarkanku,
“Iya! E, pasti Idon juga menyukaimu!”
Mia tersenyum, “Aku ingin mendengar nyanyianmu. Nyanyikan 1 lagu untukku!”
Aku mulai memetik senar.
‘Tak mudah kuakui,
Bahwa engkau begitu berarti.’
            Ini adalah penampilan terburukku! Hati dan nyanyianku tidak seimbang. Banyak sekali nadaku yang fals. Tapi sepertinya Mia tak begitu memperhatikannya.aku mulai menyanyikan reff.
‘Jantung hatiku kuletakkan di jantung hatimu
Kurekatkan erat di nadimu
Mengalir di darahmu…
Dan terbelenggu
Takkan pernah lekang oleh waktu
Semakin melekatdi pelukmu
Hingga akhir aku…’
            Mia bertepuk tangan, “Bagus. Ohya, aku ke toilet dulu, ya!” ia segera melangkah menuju kamar mandiku.
Aku memetik senar gitar lagi. Menyanyikan lagu lain.
‘Dan lagi, terjadi peristiwa terperih
Yang selalu kau beri…’
---oOo---
          Aku berjalan lemas menuju lokerku bersama Mia. Tapi betapa terkejutnya aku mendapati sebuah lollipop dan surat di dalam lokerku. Aku segera mengambilnya.
            “Mo, sepertinya kau mempunyai pengagum rahasia!” Ucap Mia, “Siapa, ya?” Ia kembali mengulum permennya,
            “Apa komentarmu dengan ini?” Tanyaku setelah membaca surat itu.
            Mia membacanya sejenak, “Romantis. Dia pasti perfeksionis!”
            Aku menatapnya bingung, “Romantis? Ini euh bgt tauk! Sudahlah, ini untukmu saja…”
            “Makasih. Tapi pengagumnya buat kamu aja, ya…” Mia berlari meninggalkanku,
            “Hey!”
            Aku meremas surat itu dan membuangnya ke tempat sampah. Siapa sih yang ngirim surat itu? Bikin malu aja!
---oOo---

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar