Lika-Liku Perjalanan Cinta

Diberdayakan oleh Blogger.
RSS


Fanfic Girls Generation, Super Junior, & 2PM

 

 

 

 

 

 

 


 

 

 

 

 

 

 

By :Anggieta Anggun Pratitis

Chapter 1

               Dengan semangat, personil So Nyeo Si Dae bernyanyi dan melakukan koreografi lagu mereka, yaitu Complete. Terlihat Yoona sedang tersenyum karena ini adalah lagu kesukaannya di SNSD. Penonton pun ikut terbawa suasana, mereka mengangkat lightstick yang sudah mereka siapkan. Ini adalah konser pertama kali SNSD yang diadakan di Busan. Pengisi acara konser itu adalah SNSD, Super Junior, Shinee, F(x), Sistar, Miss A, A Pink, Girl’s Day, dan masih banyak lagi

               Seusai tampil, SNSD pun segera menuruni panggung dan pergi ke back stage. Mereka cukup puas dengan penampilannya tadi. Walaupun ada yang sedikit tidak kompak.

               “Fany-aah, kenapa tadi saat reff tidak kompak?” ucap Jessica kesal.

               Tiffany menundukkan kepalanya, “Ne, mianhae eonnie…”

               “Gwenchana. Tadi penampilan kita cukup memuaskan, kok!” Yoona berusaha menghibur Tiffany,

               Jessica cemberut, “Tapi tetap saja…”

               “Sudahlah eonnie, kasihan Fany eonnie,”Seohyun berusaha memperbaiki suasana. Walaupun dia Maknae, tapi sifatnya seperti member tertua, member tertua saja sifatnya masih kekanak-kanakan, “Lagipula ga ada penampilan yang sempurna, kan?”

               “Ne, kau beda sekali dengan Soojung, eonnie…”Yuri meledek Jessica

               Yoona tertawa mendengar ledekan Yuri. Memang, Jessica sangat berbeda dengan Soojung, adiknya. Soojung adalah member girlband F(x). Atau jika kalian tak mengenal Soojung, bisa kupanggil Krystal. Soojung sabar dan pengertian, sedangkan Jessica… kalian sudah tahu, kan?

 Member SNSD langsung disambut oleh member Super Junior. Memang, hampir semua member SNSD berpacaran dengan Member Super Junior, kecuali Yuri, Sooyoung, dan Yoona. Seohyun langsung dipeluk Kyuhyun, yang otomatis membuat muka Seohyun memerah. Sunny diberi air oleh Sungmin, Hyoyeon berhigh-five dengan Eunhyuk, sementara yang lain hanya diam saja. Yoona pun memilih duduk bersebelahan dengan Yuri dan Sooyoung, si Duo Jomblo.

“Kalian terlihat seperti Trio Jomblo jika duduk bersebelahan seperti itu. Meratapi nasib…” canda Taeyeon.

 Tak segan-segan Yoona membalas, “Ih, aku dah punya namjachingu, tau!”

“Ne, arraseo Yoong,” balas Taeyeon, “Lagi ditinggal Taecyeon, ya?”

“Bagaimana kelihatannya?!” ucap Yoona kesal. Maklumlah, sudah lama Yoona tak bertemu namjachingunya, Taecyeon. Sudah bisa ditebak kalau Yoona sangat merindukannya.

Taeyeon terlonjak, “Ih, galak banget, sih! Sifat evil Kyu sudah menjalarimu, ya?” Yoona dan Taeyeon pun tertawa bersama.

“Kalian sedang bicara tentang apa? Kelihatannya seru sekali…” Seohyun tiba-tiba datang bersama namjachingunya,

“Ga papa..”

Mata elang Yoona mulai beraksi, “Ya! Ada apa dengan tanganmu?! Berani-beraninya menyentuh dongsaengku…”

Kyuhyun pun melepas tangannya yang melingkari pinggang Seohyun, “Kenapa kau selalu bersikap seperti ini padaku? Kau dengan member lain biasa saja… dan jangan panggil aku begitu. Aku lebih tua darimu. Seharusnya, kau memanggilku oppa”

               “Bagaimana bisa kupanggil ‘oppa’ bila sikapmu seperti itu…” Yoona mendengus kesal, “Aku tak sudi memanggilmu dengan sebutan ‘oppa’!”

               Jawaban Yoona membuat Kyuhyun kesal, tapi ia mencoba mengendalikan emosinya ketika Yuri menenangkannya, “Sudahlah oppa, Yoona sedang bad mood saat ini,”

               “Sudahlah, ayo kita siap-siap buat penampilan nanti!” Taeyeon membuat Yoona tak marah pada Kyuhyun lagi. SNSD pun segera pergi ke ruang ganti meninggalkan Suju

oOo

Yoona tersenyum-senyum sendiri ketika membaca sms yang diterimanya. Hal itu membuat Yuri penasaran, kenapa Yoona senyum-senyum sendiri seperti orang gila. Ia pun mendekati Yoona dengan maksud ingin membunuh rasa penasaran itu. Yuri kepo banget, ya? Pengin tahu aja urusan orang…

“Ya, Yoona!” panggilan Yuri yang membuat Yoona kaget dan hampir jatuh dari tempat tidurnya,

“Aeish, eonnie kau mengagetkanku saja. Bagaimana bila dongsaeng tercantikmu ini jatuh dan kepalaku terbentur, dan aku masuk rumah sakit, dan aku dioperasi, dan…”

Yuri menyela omelan Yoona, “Dan ternyata kau baik-baik saja. Kau sangat lebay,”

Yoona tersenyum jahil, “Hehehe… mianhae eonnie, aku hanya bercanda…” Yoona pun bertanya, “Omong-omong, eonnie ngapain kesini, kangen sama aku?”

Yuri menjitak dongsaengnya yang sangat cerewet itu, “Aeeeyyy, kamu cerewet dan pd sekali. Biarkan aku ngomong dong!”

“Ok eonnie silahkan,”

Yuri berdeham, “Ehem! Kamu dari tadi aku liatin senyum-senyum sendiri, kenapa, sih?”

“Mau tau aja atau mau tau banget?” Yoona menggoda Yuri,

“Ish, Yoona, yang serius, dong!” Yuri sebal dengan ucapan Yoona,

“Oke, jadi begini, besok 2PM udah pulang dari Vietnam,” Jawab Yoona,

Yuri senang mendenarnya, “Chukkae,”

“Ih, kok gitu, sih bilangnya. Kayak ngasih selamat sama pemenang lotere aja. Yang bener dong!” omel Yoona,

“Ok. Chukkaeyo Yoona, akhirnya kamu ga perlu nangis sepanjang malam lagi (?) karena merindukan sang pujaan hati…” ucap Yuri

“Ih, panjang amat sih kayak pidato. Lagian, aku ga nangis sepanjang malam kaleee!” mereka pun tertawa bersama.

oOo

Cuaca di Seoul siang ini sangat panas. Choi Siwon memutuskan untuk tidak keluar dulu. Sudah seminggu ini dia tak ikut Suju perform karena sakit. Siwon benar-benar merasa rugi karena sakit. Seminggu ini dia hanya makan dan tidur. Ia mati kebosanan. Tadinya ia ingin pergi ke suatu tempat. Tapi karena cuaca yang panas ini, ia mengurungkan niatnya itu. Ia kembali duduk dan memandangi sebuah foto yeoja yang amat cantik. Ia memandang foto itu lekat-lekat.

“Jeongmal phogoshippho…” gumamnya,

“Kapan Tuhan akan menyatukan kita? Apakah kita memang ditakdirkan takkan pernah bersama?”

Para member Suju sudah pulang dari sesi pemotretan. Mereka melihat Siwon yang tengah memandangi handphonenya.

“Hyung sudah sembuh?” Tanya Kyuhyun,

Siwon tersenyum, “Kau menanyaiku? Sejak kapan kau jadi peduli denganku? Biasanya kau sering menjahiliku!”

“Walaupun begitu, aku boleh khawatir pada hyung, kan? Baru aku sadari, tanpa hyung, Suju bukanlah Suju,”

Lagi-lagi Siwon tersenyum sambil melihat benda yang dibawa Kyuhyun, “Bunga dari siapa lagi itu? Awas, sembunyikan dari Seohyun. Bisa-bisa, kau dihajar Yoona,”

“Bicara tentang Yoona, aku ingat sesuatu,” ucap Ryewook, “Besok 2PM akan pulang dari Vietnam,”

Siwon menatap Ryewook bingung, “Lalu, apa hubungannya dengan Yoona?”

“Apa hubungannya? Kau sudah amnesia?!” ucap Eunhyuk tak percaya, “Taecyeon kan, namjachingunya Yoona!”

Siwon baru sadar bahwa Yoona berpacaran dengan Taecyeon. Ia mengangguk-anggukan kepala, “Ne, aku lupa,”

“Yes! Akhirnya Taecyeon pulang juga,” ucap Kyuhyun gembira, “Aku ga jadi pelampiasan amarah lagi, deh!”

Siwon menatap Kyuhyun bingung, “Pelampiasan amarah? Maksudmu?”

“Ya begitu, deh. Sejak Taecyeon ke Vietnam, Yoona sering kali memarahiku saat aku bersama Seohyun,” jawab Kyuhyun santai,

“Bukankah Yoona memang sering memarahimu?” ledek Leeteuk,

“Memang, sih. Tapi, setelah Taecyeon pergi ke Vietnam, dia tak pernah absen memarahiku,”

Mereka pun tertawa. Kecuali Siwon, ia hanya tersenyum tipis

oOo

Yoona memainkan jarinya di handphonenya. Berusaha meng-sms seseorang. Sesekali ia melongak-longok mencari seseorang. Dia sedang ada di sebuah taman, tempat biasa Yoona dan Taecyeon bertemu. Beberapa kali yeoja itu menelponnya, tapi tak digubris sama sekali. Apalagi cuaca siang ini memang sedang panas. Akhirnya Yoona memutuskan berganti tempat duduk di tempat yang lebih teduh. Baru saja ia merasakan keteduhan ketika ia harus menghadapi kegelapan luar biasa. Seseorang menutup matanya! Sontak, Yoona memegang tangan yang menutupi matanya itu. Dari alat perabanya, ia menduga bahwa orang yang menutup matanya itu seorang namja.

“Nuguya? Lepaskan!” ucap Yoona berusaha tenang,

“Akan aku lepaskan jika kau menyebut namaku!” perintah namja itu,

“Aku mengenalmu? Kau seorang entertainment?”

“Ya. Dan aku sangat dekat denganmu,” Namja itu memberi clue

“Siapa? Hae oppa? Teukie oppa?”

“Bukan,”

“Siapa kau?” Tanya Yoona penasaran,

“Orang yang paling dekat denganmu,” Namja itu kembali memberi clue,

“Siapa? Cyeon oppa?”

“Sejak kapan kau memanggilku Cyeon?” ternyata namja itu memang Taecyoen!

Yoona terkejut, “Kau benar Taecyeon oppa?”

“Siapa lagi? Kenapa kau menjawab Donghae dan Leeteuk hyung?” ucapnya kesal, “Kau lebih dekat dengannya?”

Yoona tertawa, “Haha, ani oppa. Kau tahu, kan? Donghae dan Teukie oppa sudah kuanggap sebagai kakak kandungku sendiri,” Yoona mencoba menjelaskan, “Lagipula, Donghae oppa sudah bersama Sica eonnie dan Teukie oppa dengan Taeyeon eonnie…”

“Ne, arasseo chagiya... Ohya, sejak kapan aku kau panggil Cyeon?” Tanya Taecyeon penasaran,

“Ga papa. Aku pengin manggil gitu aja,” jawab Yoona, “Oppa panggil aku Yoongie, aku masa Cuma panggil oppa Taecyeon oppa?”

“Oke. Panggil aku sesukamu,” ucap Taecyeon oppa.

Tiba-tiba Yoona memeluk Taecyeon, Taecyeon pun membalas pelukan Yoona, “Oppa, jeongmal phogoshippho,”

“Na ddo Yoongie-aah” balas Taecyeon.

oOo

Lagu Tell Me Your Wish terdengar dari ruang latihan SNSD. Ya, SNSD sedang latihan untuk konser nanti malam. Selain itu, mereka berusaha membuat koreo baru untuk mengganti koreo yang kurang hebat. Si Ratu Dance, Hyoyeon pun menunjukan kemampuannya. Yuri dan Yoona berusaha menyempurnakan gerakan Hyoyeon, maklum mereka bertiga adalah ketua dance di SNSD. Beberapa member juga memberikan ide dan komentar. Setelah membuat beberapa gerakan, Yuri mengambil air yang sudah disiapkannya. Yoona menyusulnya.

“Eonnie, kenapa mukamu kusut, begitu?” Tanya Yoona yang mendapati eonnienya murung,

“Siwon oppa. Beberapa hari ini dia ga ikut perform. Katanya dia sakit,” ucap Yuri cemas,

“Siwon oppa, dia sakit?” ucap Yoona tak percaya, “Kenapa tak ada yang memberitahuku, ya?”

“Tunggu!” ucap Yoona, “Kenapa kau cemas sekali? Jangan-jangan…”

Yuri hanya mengangguk sambil tersipu malu.

Mata Yoona berbinar, “Kenapa tak beritahu aku sebelumnya? Yang lain sudah tahu?”

Yuri menggelengkan kepalanya, “Kau satu-satunya. Jangan sebarkan ke yang lain, ya…”

“Pasti,” jawab Yoona, “Dari kapan eonnie?”

“Sudah agak lama sih, sekitar setahun yang lalu…”

Yoona girang, “Omo! Kau bisa menunggu selama itu? Daebak!”

Yuri tersipu, “Ah biasa saja, kok! Omong-omong, kamu mau bantuin aku ga, Yoongie?”

“Bantu apa?” Tanya Yoona penasaran,

“Bantu buat mendekatkan aku sama Siwon oppa…” pinta Yuri

“Walaupun aku ga terlalu dekat dengan Siwon oppa,Ok, aku akan mendekatkan kalian Yulwon couple!” ucap Yoona lumayan keras.

Yuri meletakkan jari telunjuknya didepan bibir sambil mendesis pelan. Yoona membalasnya dengan melakukan hal yang sama.

oOo

“Ne oppa, aku hampir sampai, annyeong…”

Yoona mengakhiri telponnya dan segera meletakkan hpnya di tas, Yoona pun kembali menjilat es krimnya dan terus berjalan. Rupanya ia tak terlalu melihat jalan sehingga bertabrakan dengan seseorang. BRUK! Yoona dan namja yang menabraknya tak jatuh, tapi es krimnya terjatuh.

“Mianhae!” ucap Yoona sambil menundukan badannya,

Namja itu melakukan hal yang sama, tapi setelah melihat wajah Yoona… “Yoona? Kau Yoona, kan?”

Yoona melihat namja itu, “Kau? Siwon oppa?”

“Ne, sudah lama tidak bertemu, ya?” ucap Siwon, “Kau terlihat baik. Es krimmu… kajja, aku belikan lagi,”

“Ani oppa, gwenchana. Aku bisa beli sendiri, kok,” jawab Yoona, “M… oppa, kenapa kau tak bilang kalau sakit?”

“E… Mianhae, aku lupa,“ jawab Siwon, “Kau sepertinya sedang terburu-buru, ya,”

“Iya, aku ada janji dengan Taecyeon oppa,” jawab Yoona, “Kami akan membeli beberapa hadiah untuk Yuri eonnie. Siwon oppa tahu, kan, besok eonnie ulang tahun?”

“Ah ne, aku lupa, hehhehe…” ucap Siwon tertawa renyah, “5 Desember, kan?”

Yoona mengangguk pelan, “Yaudah oppa, aku pergi dulu, ya. Kasihan Taecyeon oppa sudah menunggu… Anyyeong!” Yoona melambaikan tangan lalu pergi menjauh.

Siwon tersenyum. Setelah Yoona jauh, Siwon memegang  dadanya, “Wae, kenapa kau menyebut namja lain?”

oOo

Lampu Apartemen Dorm SNSD mati ketika Yuri masuk. Ia bingung kenapa lamu mati dan dorm terlihat sepi. Padahal, hanya dia yang pergi dalam sesi pemotretan. Ia berusaha menyalakan lampu, tapi sudah ada yang mendahului.

“Saengil chukkae hamnida!” seru seisi ruangan.

Yuri yang kaget hanya mematung.

“Eonnie, kenapa diam saja?” Tanya Yoona yang menyadarkan Yuri

“Darimana kalian tahu?” Tanya Yuri yang melihat SNSD, Suju, dan Taecyeon,

“Yoona memberitahu kami,” jawab Donghae.

Yuri memeluk Yoona, “Gomawo yeodongsaeng yang cerewet,”

“Gwenchana, aku sekalian mengundang pangeranmu,”

Yuri melihat Yoona bingung, lalu mengalihkan pandangannya pada seseorang. Ya ampun, Choi Siwon!

“Temuilah pangeranmu, putri,” ucap Yoona. Entah kenapa, setelah ia berkata itu, seperti ada separuh jiwanya yang hilang.

Yuri pun berjalan menuju Siwon. Mereka mulai berbincang.

“Saengil chukkae hamnida Yuri-aah,”

“Ne, gomawo telah datang,” ucap Yuri malu-malu,

“Tidak masalah, lagipula, aku bosan di dorm terus,” balas Siwon,

“Kamu sudah sembuh?” Tanya Yuri, “Sudah seminggu kau tidak perform…” ucapan Yuri terhenti saat Siwon memandang ke arah lain, yaitu Taecyeon dan Yoona.

“Oppa!” panggilan Yuri menyadarkan Siwon dalam lamunannya.

“Ne? kamu tadi bilang apa?”

“Apa kau sudah sembuh?”

“Aku sudah mulai baikan, mungkin untuk konser lusa sudah bisa perform…” jawab Siwon

“Ayo kita makan!” ajak Shindong, “Kasihan makanannya, dari tadi nganggur terus…”

Semuanya segera menuju ruang makan. Tersedia aneka macam hidangan lezat yang sudah disediakan SNSD. Banyak yang sedang suap-suapan, makan sendiri, dan berkencan dengan makanannya sendiri, yaitu Shindong. Yoona sedang menyuapi Taecyeon, diam-diam, ada namja yang sedari tadi memperhatikan mereka.

“Taecyeon namja yang beruntung bisa mempunyai yeojachingu seperti Yoona yang sempurna,” gumam namja itu,

Setelah makan-makan, Eunhyuk mengajak mereka semua berbagi cerita. Mereka memutar sebuah botol minuman untuk menentukan siapa yang bercerita dahulu. Botol yang diputar Eunhyuk mengarah ke Kyuhyun.

“Bagaimana kencan pertama kau dengan Seohyun?” Tanya Eunhyuk,

Kyuhyun mulai bercerita, “Saat musim semi, aku mengajak Seohyun melihat mekarnya bunga sakura sambil memakan es krim, berjalan-jalan di taman sambil menikmati hangatnya sinar mentari. Dan, yang terakhir kita lunch bareng,”

Prok, prok, prok! Tepuk tangan pendengar membuat Seohyun tersipu. Kyuhyun pun mulai memutar botol, dan mengarah ke Seohyun. Kyuhyun tersenyum.

“Siapa di Suju yang suaranya paling bagus?”

Dengan malu Seohyun menjawab, “Tentu saja maknaenya…”

“Huwiiih…” sorak teman-temannya

Mereka semua tertawa.permainan yang seru. Yoona jadi melupakan keletihan latihan dance tadi. Ia memperhatikan Yuri. Yuri tampak senang bersama dengan Siwon. Mungkin mereka jodoh yang lama disatukan. Hahahaha…  Yoona tertawa-tawa sendiri.

“Ya! Eonnie!” panggilan Seohyun menyadarkan Yoon dari lamunannya, “Cepat jawab!”

“Apa pertanyaannya?” Tanya Yoona, “Tolong ulangi!”

Leeteuk yang sudah melontarkan pertanyaanya mengelengkan kepalanya dan terpaksa mengulanginya, “Siapa yang paling tampan di Suju?”

Mata Yoona membesar. Ia tahu siapa yang akan ia jawab, tapi ia merasa tak enak dengan Taecyeon, sehingga… “Tidak ada yang tampan. Yang tampan hanya Cyeon oppa,”

“Ayolah, paling tidak yang mendekati tampan…” pinta Ryewook,

Yoona menatap Taecyeon ragu. Taecyeon pun berkata, “Tak apa, jawab saja…”

Yoona menghembuskan nafas, “Huuufftt… baiklah. Won oppa,”

Siwon tersenyum lebar. Yoona segera memutar botol. Permainan berlanjut sampai jam 10 malam.

$$$

Yoona membolak-balik majalah fashion yang sedang dipegangnya. Ia benar-benar bosan. Yoona membanting majalah itu ke tempat tidurnya. Teman-temannya sedang shopping di suatu tempat. Disana hanya ada dirinya dan Seohyun yang tidur memunggunginya. Yoona memanyunkan bibirnya. ‘Seharusnya aku ikut yang lain. Tapi ada pemotretan dan aku malas pergi sendiri. Seohyun yang baru datang kukira akan mengajakku melakukan sesuatu yang menyenangkan, tapi langsung tidur,’, batinnya sedih.

“Seohyun-aah!” panggil Yoona, “Nyusul yang lain, yuk!”

Seohyun hanya mengelengkan kepalanya.

“Ah, wae?” Tanya Yoona, “Bagaimana kalau kita main golf, atau menunggangi kuda, atau ke toko buku, atau makan di luar?”

“Kau saja sendiri eonnie, aku malas…” jawab Seohyun serak,

Yoona memandangnya bingung, “Kenapa suaramu serak? Kamu sakit?”

“Ani,” jawab Seohyun lagi.

Akhirnya Yoona memilih pergi jalan-jalan ke taman dengan Taecyeon. Di dalam mobil Taecyeon                             
 
TBC
 
 
 
 
 
 
Bagus ga? plis comment, don't be silent! aku bingung nih mau ngelanjutin ato ga...
 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Secret Love

Secret Love Chapter 2
Karya : Choi Yeonhee / Anggieta AP


            Sudah sebulan kutemukan surat semacam itu di lokerku. Tapi selalu kubuang. Dan surat itu juga disertai barang yang aneh. Seperti permen, coklat, miniatur, dan lainnya. Ini pastinya bukan orang iseng! Aku punya pengagum rahasia? Mimpi apa aku! Kira-kira dari siapa, ya?”
Hari ini aku berangkat ke sekolah sangat awal. Aku ingin melihat pengagum rahasiaku. Aku berlari menuju tempat loker. Ada seseorang yang membuka lokerku. Tunggu, dia punya kuncinya. Pantas. Kukira lokerku rusak.
Dengan cepat ia menaruh surat dan miniature gitar. Aku tak sempat melihat wajahnya karna ia langsung lari. Aduh, siapa sih dia? Bikin capek saja!
“Hei tunggu!” Panggilku. Sepertinya ia tuli. Ia tak memperhatikanku dan terus berlari.
Aku menghentikan lariku dan melihat lokerku. Sebuah surat dan miniature gitar. Entah kenapa, aku merasa surat ini begitu penting. Aku pun pergi ke kelas.
Setelah sampai di kelas, aku segera duduk di baris tengah paling depan. Aku mulai membacanya. Surat ini terlihat beda dengan surat biasanya yang berisi ‘Hai, bagaimana harimu kemarin?’, ‘Apa kabar?’, ‘Ini hari yang cerah secerah wajahmu (euh!)!’, ‘Semangat!’.
Kali ini dia bercerita sesuatu yang agak panjang. Ia bilang, ia sudah menyukaiku saat pertama bertemu. Ia bilang ia tahu semua rahasiaku. Ia bilang suarak sangat merdu walau ia belum pernah mendengarnya. Ya begitulah, sebenarnya masih banyak yang ia tulis, tapi sebuah teriakan membuatku berhenti membaca.
“Ada sesuatu yang mengejutkan di halaman!”
Tiba-tiba ada sesuatu yang mendorongu untuk melihatnya. Disana ada sepasang perempuan dan laki-laki yang dikerbungi banyak orang. Betapa sakit hati ini saat melihat Idon dan Mia yang dikerubungi. Sudah pasti Idon akan menembak Mia.
Aku berlari menuju toilet. Menangis sepuasnya di sana. Ini pertama kalinya aku menangis di sekolah. Tak ada tempat lagi selain di sini. Aku ingin menyeka air mataku dengan tisu. Tapi tisunya habis. Huh, membuatku bete saja!
Tak lama kemudian, aku keluar dari toilet. Berusaha untuk tegar. Di depan pintu, aku bertemu dengan Vino. Kenapa dia selalu ada? Apalagi di waktu seperti ini.
“Apa yang akan kau lakukan?” Tanyaku serak, “Menertawakanku?”
Ia tak menjawab. Ia menyodorkan saputangan.
Aku menatapnya bingung, “Untuk apa itu? Aku tak butuh!”
“Ambil saja!” Ucapnya seraya meletakkan saputangan itu ke tanganku, “Untuk hadiah kekalahanmu!”
Aku terdiam sejenak, “Kau ingin mengejekku? Ejek saja sepuasnya!”
“Kenapa kau marah? Seharusnya kau berterimakasih,” Protes Vino, “Saat ini kau butuh teman curhat. Mungkin aku bisa…”
Mendengar kata curhat, aku teringat surat tadi. Aku segera berlari menuju kelas. Mia ada di kantin, jadi aku bebas di kelas. Aku menulis perasaanku saat ini. Kalimat terakhirku: ‘Kau mau jadi teman curhatku Mr. X?’
Entah kenapa setelah menulis aku menjadi lega. Aku segera berjalan menuju lokerku. Di lokerku ada surat dan lollipop besar. Aku tersenyum saat memacanya. ‘Keep smile my Princess!’. Aku meletakkan suratku dan mengambil lollipop.
“Maudy!” Panggil seseorang di belakangku. Mia!
“Mia!” Balasku, “Selamat…” Aku gak ikhlas bilangnya…
“Ini!” Ujarnya sambil menyerahkan uang 10.000, “PJ!”
“Makasih!” Aku menyerahkan lollipop tadi, “Ini untuk hadiahmu!”
Mia tersenyum, “Thank you back!”
---oOo---
“Aaaarrggghh…!”
Aku berteriak di atap sepulang sekolah. Sebelumnya aku sudah meminta kunci sekolah. Aku berusaha melepas semua kegalauanku. Aku teriak sampe nangis gak jelas. Aku melirik arlojiku. Sudah 1 jam aku di sini. Aku terduduk karena lelah.
“Kok berhenti?” Tanya seseorang di belakangku.
Aku menoleh ke belakang, “Vino? Kamu ngapain di isni?”
“Nonton pertunjukan,” Jawabnya, “kenapa susah-susah gitu?”
“Memangnya yang gak susah gimana?”
Ia menyodorkan kertas dan bolpoin. Ia menyuruhku menului apa yang sedang kurasakan saat ini. Dan yang membuatku terkejut adalah aku harus membuat 5 lembar.
“Apa kau gila? Tanganku bisa keriting!” Protesku, “Lagian, Cuma ada 1 kertas di sini.”
Ia tersenyum, “Aku masih punya banyak!” ia memperlihatkan sepack kertas.
Dengan malas, aku menuruti perintahnya. 5 lembar terisi sudah. Sekarang ia menyuruhku membuangnya ke tempat pembuangan sampah. Aku mencobanya. Rasanya ada beban yang terangkat dari hatiku. Aku terus melakukannya. Saat kertas terakhir kulempar, aku menangis sejadi-jadinya. Tiba-tiba Vino mendekapku erat. Bukannya menepis, aku malah menangis semakin keras.
---oOo---
Sejak saat itu, aku dan Vino berteman baik. Ternyata pertemananku dengannya berdampak positif. Aku semakin aktif dan terkenal. Tapi akhir-akhir ini aku jarang bertemu Mia. Mungkin ia sibuk dengan Idon. Dan aku juga merasa perasaanku pada Idon perlahan tapi pasti menghilang. Inilah Maudy. Maudy yang baru!
Pagi ini aku berangkat ke sekolah dengan ceria. Pagi ini sangat cerah. Aku membuka lokerku. Terdapat sebuah surat dan coklat. Aku membacanya, ‘Pagi yang cerah. Semangat My Princess!’. Aku membalasnya, ‘Semangat juga My Prince!’. Saat aku akan menaruhnya kembali ke loker, aku segera menambahkan, ‘Kita udah lama curhat, tunjukkin identitas dong!’.
“Hai Mi!” Sapaku sesampainya di kelas. Tapi Mia tak membalasku. Sepertinya ia sedang menghindariku,
“Hai!” Sapa Vino, “Nanti siang ada acara?”
Aku menggelengkan kepala, “Gak, memangnya kenapa?”
“Nanti siang jam 12 tepat datang ke cake shop, ya!” Pintanya, “Ada yang mau kuomongin…”
Aku tak sempat menjawabnya karena guru killerku sudah masuk ke kelas. Kok tiba-tiba aku jadi deg-deg-an gini, ya? Apa sih yang mau dia omongin?
---oOo---
Siang ini jam 12 tepat aku masuk ke tempat janjian. Aku duduk di samping Vino. Kami memesan tisu. Setelah itu kami tak berbicara apapun. Kok tiba-tiba salting gini, ya?
“Jadi apa?” Aku memecah keheningan.
Vino tak menjawab. Ia haya memasangkan headset ke telingaku.
Aku mendengar lagu yang diputarnya. Lyla ‘Takkan Ada’. Ini salah satu lagu kesukaanku. Kok tiba-tiba suasananya aneh gini, ya? Dan kenapa jantungku berdebar-debar? Apa Vino menembakku? Aku menatap Vino. Ternyata ia juga sedang menatapku. Salting, deh…
Aku mencari lagu yang pas untuk menjawabnya. Pandanganku tertuju pada judul lagu Lyla ‘Jantung hati’. Aku menekannya. Vino terlihat terkejut. Aku tersenyum.
“Maaf aku ganti,” Ucapku, “lagu ini lebih bagus!”
Mulai saat in, aku adalah pacar Vino!
---oOo---
Sudah setahun aku menjalin hubungan dengan Vino. Hari ini adalah hari jadi kita. Aku dan Vino akan merayakannya di suatu kafe. Tapi sebelum berangkat, aku menerima telepon dari seseorang.
“Halo?”
“Halo, apakah ini benar nomor Maudy?”
“Iya. Ini siapa?”
“Ini Idon. Aku mau bicara sama kamu di kafe dekat sekolah sekarang!”
Belum saja aku menjawab, Idon sudah memutus kontak.aku bimbang. Hari ini aku juga harus ketemuan sama Vino. Akhirnya kuputuskan untuk menemui Idon terlebih dahulu.
“Hai don…” Sapaku sesampainya di sana.
Ia hanya tersenyum. Aku pun duduk di depannya.
“Jadi apa?” Tanyaku,
“Kamu mau gak jadi pacarku?” Aku terkejut oleh penembakan tiba-tibanya.
Aku membeku. Lidahku kelu. Speechless . aku gak tahu harus menjawab apa. Di satu sisi aku senang akhirnya cintaku terbalas. Tapi di sisi lain aku tak bisa menerimanya karena sudah mempunyai Vino. Aku tak mungkin mengkhianatinya. Tapi saat aku melihat ke mata Idon, aku merasa impianku hampir tercapai.
“Aku mau,” Tanpa sadar aku mengatakannya.
---oOo---
“Maudy?!” Panggil seseorang.
Oh tidak. Vino! Ohya, aku lupa kalau kita janjian di sini. Bagaimana ini?
Reflek aku berdiri, “Vino? Aku bisa jelasin..”
“Kenapa harus hari ini?” Vino terlihat tak percaya, “Ternyata Selma ini aku salah nilai kamu!”
Vino pun melangkah pergi. Aku berusaha mengejarnya tapi Idon menahanku. Vino!
---oOo---
Sudah sebulan aku mengkhianati Vino. Sudah sebulan juga aku dijauhi Mia dan Vino. Kadang aku canggung saat bertemu mereka. Mereka kompak banget hindarin aku!
Saat istirahat, Vino mengajakku ketemu. Sepertinya ia sudah tak marah lagi. Aku segera pergi ke taman belakang. Agak canggung, sih!
“Maudy!” Panggilnya,
“Kenapa?” Tanyaku,
“Jauhi Idon! Ucapan Vino membuatku terkejut,
“Kenapa?” Aku mengulang pertanyaanku dengan nada berbeda,
“Dia gak baik buat kamu!” Jawabnya, “Dia Cuma gunain kau buat manasin Mia doang!”
“Apa?! Gak mungkin! Aku tahu Idon. Dia gak kayak gitu!”
“Aku denger dari dia sendiri!” Vino berusaha sabar, “Maudy, come back to me!”
“Gak! Kamu ngomong gitu biar aku kembali lagi ke kamu, kan?” Tuduhku, “Aku gak akan kembali ke kamu lagi!”
“Terserah kamu, deh!” Ia menyerah, “Yang penting aku udah peringatin kamu!”
            “Aku juga mau memberitahu kamu kalau besok jam 9 aku take off ke Calofornia! Dan..” Vino menggantungkan kalimatnya, “Surat di lokermu itu. Itu dari aku!”
Aku memandangnya tak percaya.
---oOo---
Aku melihat bayanganku di cermin.rambutku lurus. Bibirku terpoles lipgloss. Tiba-tiba aku teringat ucapan Vino. Aku menatap arlojiku. 15 menit lagi dia take off. Apa yang harus kulakukan?
Aku pun keluar dari rumah untuk menemui Idon. Terliat ia sedang menghubungi seseorang. Karena teringat ucapan Vino, aku bersembunyi di balik pagar untuk menguping. Aku hanya dapat mendengar suaranya
‘Dia bilang gitu?’
‘Gak, ku gak serius sama Maudy. Aku Cuma pake dia buat manasin Mia doang!’
Apa?! Jadi yang dibilang Vino bener? Aku merasa bersalah. Diam-diam, aku keluar lewat pintu belakang dan menaiki taksi untuk ke bandara. Aku juga meng-sms Idon untuk tetap menungggu. Ha-ha! Rasain! Biar nunggu sampe besok!
---oOo---
Sesampainya di bandara aku segera mecari Vino di tempat Check In. Tapi terlambat. Aku mendengar deru pesawat. Aku pu melangkah keluar. Iya, itu pesawat Vino.
“Vino!!” Teriakku tanpa peduli pada orang-orang yang melihatku bingung. Mungkin mereka pikir aku lagi syuting film kali, ya?
‘Vino, aku bakal nunggu kamu. Aku tahu kamu pasti akan kembali. Aku akan menunggumu sampai hari itu tiba…’ batinku.
---oOo---
Sudah 3 tahun. Lebih. 3 tahun lebih aku menunggu. Sekarang, aku sudah menjadi mahasiswa di UI jurusan kedokteran. Aku termasuk mahasiswa terbaik di sini. Ya, begitulah Maudy yang sekarang.
Mia juga kuliah di universitas dan jurusan yang sama. Kami sudah berbaikan. Dan Idon kuliah di sini jurusan teknik kimia. Mereka berpacaran lagi. Sungguh menggembirakan.
Sementara aku? Aku hanya terus menanti. Tanpa lelah. Tanpa bosan. Tanpa keluhan. Juga tanpa kepastian. Hanya berdiam diri dan menanti. Tanpa jawaban.
Aku biasa berjalan-jalan di taman saat hujan. Menanti pelangi harapan. Setelah pelangi terbentuk, aku memejamkan mata mengharapkan sesuatu. Harapan. Selalu harapan yang sama.
Sama dengan hari ini, aku memejamkan mata. Tiba-tib ada seseorang yang menutup mataku. Aku bingung. Siapa dia? Aku rasa aku di sini sendiri. Apakah malaikat?
“Pelangi yang Indah,” Ucapnya, “Bagaimana menurutmu My Princess?”
The End

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Secret Love




Secret Love Chapter 1

Karya : Choi Yeonhee / Anggieta AP

Maudy. Itu namaku. Gadis SMA tinggi, cantik (narsis banget!), pendiem, dan cuek. Aku punya sahabat yang juga teman sebangkuku, Mia. Aku dan dia punya nama panggilan. Aku Momo dia Mimi. Lucu, kan? Aku suka banget nyanyi. Aku juga kursus gitar. Dan aku juga punya banyak lagu ciptaanku sendiri. Hebat, nggak?
“Mo, ke kantin, yuk!” Ajak Mia,
“Malas Mi…” Jawabku sambil menyenderkan kepala di atas meja,
“Ayo! Nanti aku beliin permen, deh!” Tawar Mia penuh harap.
Aku tersenyum kecil, “Memangnya aku ‘Candy’ kayak kamu?” Candy adalah nama julukanku untuk Mia karena ia suka banget sama yang namanya permen, “Yasudah, ayo!”
Kami melangkah menuju kantin. Rupanya Mia hanya ingin membeli permen lollipop. Julukan ‘Candy’ ternyata sangat cocok untuknya! Ia memberiku satu. Aku pun menerimanya dengan malas. Kami kembali ke kelas.
Sungguh masa SMA yang membosankan!
---oOo---
Duk! Terdengar suara buku dibanting. Ternyata Idon yang duduk di belakang Mia. Ia memukul Mia dengan buku catatannya (Pelan). Mia pun berbalik dan mengomeli Idon. Pemandangan yang tak asing bagiku.
Idon. Iya, benar Idon. Ia adalah satu-satunya orang diantara lautan manusia di sekolah ini yang tak membuatku bosan. Matanya yang indah membuatku ingin terus memandangnya. Segala yang ada pada dirinya benar-benar sempurna! Hidungnya mancung, bibirnya terikir indah, telinganya sempurna, dan rambutnya, model yang sangat kusukai.
Benar. Kalian benar. Aku memang menyukainya. Ia yang membuatku ingin pergi ke sekolah. Ia yang membuatku semangat di kelas. Dan ia yang membuatku dapat merasakan indahnya cinta. Ia juga yang membutku ingin terus menjalani hidupku ini. Tak pernah bibir ini mengatakan perasaan ini padanya. Hanya mata yang dapat mengutarakannya.
“Don, kerjain tugasmu! Jangan menjahiliku terus..!” Ucap Mia kesal. Tapi Idon hanya tertawa.
Mungkin itu hanya cinta 1 sisi. Sisi lainnya belum terbangun. Atau mungkin tidak akan pernah terbangun. Tawa itu. Pancaran mata itu. Terungkap sudah. Sisi itu sudah terbangun. Tepat di hadapan Mia. Aku merasakan 2 perasaan yang berlainan. Senang karena Mia telah menemukan cintanya. Dan sedih karena tahu cintaku bertepuk sebelah tangan. Rasanya ingin menangis dan tertawa.
Tuhan, cobaan apa yang sedang kau berikan?
---oOo---
“Anak-anak, sebelum memulai pelajaran, saya akan mengenalkan siswa baru!” Ucap seorang guru di dalam kelas. Membosankan. Memangnya ia kira kita ini masih SD?
Tak lama masuklah si ‘Anak baru’. Aku terus menulis lagu tanpa memperhatikannya. Lagi pula, untuk apa aku memperhatikannya? Tak ada manfaatnya untukku!
“Perkenalkan, namaku Vino. Vino Candradinata…” Ucap anak baru itu.
Tanganku berhenti bergerak. Badanku membeku. Vino? Vino Candradinata? Apa benar dia? Tidak mungkin… bagaimana bisa dia kesini? Huh, perlu kalian ketahui, Vino itu… dia, cinta pertamaku! Terdengar konyolkah? Mungkin, karena dia benar-benar bukan tipeku. Boleh saja dia tampan dan keren. Tapi sebenarnya sombong, sok tampan, over PD, dan menyebalkan. Entah kenapa aku bisa menyukainya. Apa dulu aku sebodoh itu?
Mimpi apa semalam sampai aku bisa bertemu dengannya? Aaarrgghh… benar-benar sial aku hari ini! Aku mengangkat kepala untuk memastikan dia bukan Vino itu. Akhirnya mata kita bertemu. Benar. Sudah tak bisa menghindar lagi. Tak bisa…
Ia duduk di depanku. Aku berusaha menutup mukaku dengan sebuah buku. Aku bisa melihat ia berbalik. Dengan senyuman yang (tidak) manis, ia memandangku.
“Aku rasa aku mengenalmu,” Ia mengambil buku yang menutupiku, “Benar. Kau. Maudy, benar?”
Aku meutar bola mataku, “Memang kenapa kalu iya?”
“Ternyata kau sudah berubah!” Ucapnya,
“Kau mengenalnya, Mo?” Tanya Mia,
“Kau belum tahu? Maudy belum pernah menceritakanku?” Tanya Vino yang dibalas gelengan Mia, “Aku cinta pertamanya!”
Oh tidak. Terlambat sudah. Kenapa ia memberitahu Mia?!
“Beneran?” Tanya Mia tak percaya, “Beneran Mo?”
Terpaksa aku menganggukkan kepala, “Ya…, tapi itu hanya masa lalu!”
“Ehem! Jangan-jangan nanti ada yang CLBK, nih!” Ledek Mia,
“Impossible!” Balasku, “Itu hanya akan terjadi di imajinasimu saja!”
“Cepat kerjakan tugas! Jangan melihat ke belakang terus!” Bentakku,
“Oh ya, kita belum berkenalan. Namaku Mia, sahabat Maudy!”
“Oh kau sahabatnya?” Vino memastikan, “Mau kuceritakan betapa ia tergila-gila padaku dulu?”
“Diamlah!” dia sudah kelewatan batas!
Ucapan Mia membuatku semakin kesal, “Kau boleh menceritakannya padaku nanti.”
“MIA!!”
---oOo---
“Bagaimana bisa orang menyebalkan seperti dia bisa mejadi penyerang yang handal?” Ucap Mia tak percaya saat Idon mencetak poin di lapangan basket (indoor).
Aku dan Mia sedang berada di pertandingan basket Idon. Sebenarnya aku malas kesana karena ada Vino. Tapi karena rengekan Mia, aku terpaksa pergi. Aku mengenakan topi abu-abu untuk mengelabuhi Vino. Tapi ternyata tak ada gunanya. Ia langsung menyapaku saat kami datang.
Saat istirahat, Idon berlari menuju bangku cadangan untuk memina air. Mia pun datang sambil membawa sebotol air putih. Idon tampak senang. Begitu pula dengan Mia. Tiba-tiba ada seseorang yang duduk di sampingku. Ah, Vino!
“Kau lagi!” Seruku kesal, “Kenapa kau selalu mengikutiku?!”
“Kau saja yang selalu ada di mana pun aku pergi!” Alibinya,
“Alasan saja kau!”
“Kau menyukainya?” tiba-tiba, ia mengubah topik.
Aku memandangnya bingung, “Menyukai siapa?”
“Penyerang itu. Idon. Kau menyukainya, kan? Jujur saja…” Ia terus menanyaiku,
“Memangnya aku kurang kerjaan apa, menjawab pertanyaan konyolmu itu?” Aku merasa mukaku menjadi panas, “Mengapa kau kepo sekali tentang kehidupanku?
Senyum di bibir Vino menghilang, “Jujur saja… aku akan merahasiakannya!”
“Benar. Aku meman menyukainya!” Oh tidak. Apa yang barusan kukatakan? Aku segera menambahkan, “Tapi dalam waktu dekat, rasa itu akan sirna!”
“Kau masih puitis. Memangnya kenapa?” Tanyanya,
“Kar…” Tunggu! “Hei! Kenapa aku jadi menceritakan ini kepadamu? Sudahlah, cepat turun!”
Aku masih punya banyak waktu!” Jawabnya sambil menunjuk jam tangannya, “Katakanlah alasannya. Atau kau mau aku prmalukan di sekolah dengan berkata kau menyukai Idon?”
“Jangan!” Jawabku, “Kau ini, selalu saja bisa mengancamku. Baiklah, aku akan mengatakannya!”
“Aku memang menyukainya. Tapi dia tidak meyukaiku. Tidak akan pernah bisa!”
“Kau tahu dari mana?”
“Lihat saja dia!” Ucapku seraya menunjuk Idon dan Mia, “Idon menyukai Mia. Dan kelihatannya Mia juga begitu,” Setetes Kristal bening  keluar dari mataku,
“Jangan menangis. Mia akan khawatir.” Ucapnya, “Kau punya air?”
Aku mengambil air dari tasku, “Ini!” Aku pun menyodorkannya pada Vino.
Ia menerimanya dengan senang hati, “Thank’s!”
---oOo---
Siang ini matahari bersinar dengan terik. Aku mengambil gitar dan melangkah menuju balkon kamarku. Memainkan senar gitar. Terkadang, menyanyikan sebuah lagu.
“Momo!” panggil seseorang yang sedang mengulum permen di teras. Ia adalah Mia.
“Mia, masuk saja!” Entah kenapa, kakiku terasa lumpuh untuk membukakan pintu untuknya,
“Hai!” Sapaku saat ia berjalan menuju balkon,
“Aku ingin menceritakan sesuatu padamu!” Ucapnya,
“Apa?” Tanyaku.
Ia segera duduk di sampngku, “Aku sedang menyukai seseorang!”
“Oh ya?”
Ia menganggukan kepala, “Kau tahu siapa?”
“Memangnya siapa?”
“Idon!”
Jantungku serasa berhenti berdetak. Pandanganku membeku. Dengn susah payah, aku menahan air mata.
“Aku baru sadar kalau aku menyukainya!” Ujar Mia, “Kira-kira Idon punya perasaan yang sam ga, ya?”
Aku terdiam. Sulit untuk mempercayai setiap kata Mia.
“Mo?” Mia menyadarkanku,
“Iya! E, pasti Idon juga menyukaimu!”
Mia tersenyum, “Aku ingin mendengar nyanyianmu. Nyanyikan 1 lagu untukku!”
Aku mulai memetik senar.
‘Tak mudah kuakui,
Bahwa engkau begitu berarti.’
            Ini adalah penampilan terburukku! Hati dan nyanyianku tidak seimbang. Banyak sekali nadaku yang fals. Tapi sepertinya Mia tak begitu memperhatikannya.aku mulai menyanyikan reff.
‘Jantung hatiku kuletakkan di jantung hatimu
Kurekatkan erat di nadimu
Mengalir di darahmu…
Dan terbelenggu
Takkan pernah lekang oleh waktu
Semakin melekatdi pelukmu
Hingga akhir aku…’
            Mia bertepuk tangan, “Bagus. Ohya, aku ke toilet dulu, ya!” ia segera melangkah menuju kamar mandiku.
Aku memetik senar gitar lagi. Menyanyikan lagu lain.
‘Dan lagi, terjadi peristiwa terperih
Yang selalu kau beri…’
---oOo---
          Aku berjalan lemas menuju lokerku bersama Mia. Tapi betapa terkejutnya aku mendapati sebuah lollipop dan surat di dalam lokerku. Aku segera mengambilnya.
            “Mo, sepertinya kau mempunyai pengagum rahasia!” Ucap Mia, “Siapa, ya?” Ia kembali mengulum permennya,
            “Apa komentarmu dengan ini?” Tanyaku setelah membaca surat itu.
            Mia membacanya sejenak, “Romantis. Dia pasti perfeksionis!”
            Aku menatapnya bingung, “Romantis? Ini euh bgt tauk! Sudahlah, ini untukmu saja…”
            “Makasih. Tapi pengagumnya buat kamu aja, ya…” Mia berlari meninggalkanku,
            “Hey!”
            Aku meremas surat itu dan membuangnya ke tempat sampah. Siapa sih yang ngirim surat itu? Bikin malu aja!
---oOo---

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS