Secret Love Chapter 2
Karya : Choi Yeonhee / Anggieta AP
Sudah sebulan kutemukan surat semacam itu di lokerku. Tapi selalu kubuang. Dan surat itu juga disertai barang yang aneh. Seperti permen, coklat, miniatur, dan lainnya. Ini pastinya bukan orang iseng! Aku punya pengagum rahasia? Mimpi apa aku! Kira-kira dari siapa, ya?”
Hari ini aku berangkat ke sekolah sangat awal. Aku ingin melihat pengagum rahasiaku. Aku berlari menuju tempat loker. Ada seseorang yang membuka lokerku. Tunggu, dia punya kuncinya. Pantas. Kukira lokerku rusak.
Dengan cepat ia menaruh surat dan miniature gitar. Aku tak sempat melihat wajahnya karna ia langsung lari. Aduh, siapa sih dia? Bikin capek saja!
“Hei tunggu!” Panggilku. Sepertinya ia tuli. Ia tak memperhatikanku dan terus berlari.
Aku menghentikan lariku dan melihat lokerku. Sebuah surat dan miniature gitar. Entah kenapa, aku merasa surat ini begitu penting. Aku pun pergi ke kelas.
Setelah sampai di kelas, aku segera duduk di baris tengah paling depan. Aku mulai membacanya. Surat ini terlihat beda dengan surat biasanya yang berisi ‘Hai, bagaimana harimu kemarin?’, ‘Apa kabar?’, ‘Ini hari yang cerah secerah wajahmu (euh!)!’, ‘Semangat!’.
Kali ini dia bercerita sesuatu yang agak panjang. Ia bilang, ia sudah menyukaiku saat pertama bertemu. Ia bilang ia tahu semua rahasiaku. Ia bilang suarak sangat merdu walau ia belum pernah mendengarnya. Ya begitulah, sebenarnya masih banyak yang ia tulis, tapi sebuah teriakan membuatku berhenti membaca.
“Ada sesuatu yang mengejutkan di halaman!”
Tiba-tiba ada sesuatu yang mendorongu untuk melihatnya. Disana ada sepasang perempuan dan laki-laki yang dikerbungi banyak orang. Betapa sakit hati ini saat melihat Idon dan Mia yang dikerubungi. Sudah pasti Idon akan menembak Mia.
Aku berlari menuju toilet. Menangis sepuasnya di sana. Ini pertama kalinya aku menangis di sekolah. Tak ada tempat lagi selain di sini. Aku ingin menyeka air mataku dengan tisu. Tapi tisunya habis. Huh, membuatku bete saja!
Tak lama kemudian, aku keluar dari toilet. Berusaha untuk tegar. Di depan pintu, aku bertemu dengan Vino. Kenapa dia selalu ada? Apalagi di waktu seperti ini.
“Apa yang akan kau lakukan?” Tanyaku serak, “Menertawakanku?”
Ia tak menjawab. Ia menyodorkan saputangan.
Aku menatapnya bingung, “Untuk apa itu? Aku tak butuh!”
“Ambil saja!” Ucapnya seraya meletakkan saputangan itu ke tanganku, “Untuk hadiah kekalahanmu!”
Aku terdiam sejenak, “Kau ingin mengejekku? Ejek saja sepuasnya!”
“Kenapa kau marah? Seharusnya kau berterimakasih,” Protes Vino, “Saat ini kau butuh teman curhat. Mungkin aku bisa…”
Mendengar kata curhat, aku teringat surat tadi. Aku segera berlari menuju kelas. Mia ada di kantin, jadi aku bebas di kelas. Aku menulis perasaanku saat ini. Kalimat terakhirku: ‘Kau mau jadi teman curhatku Mr. X?’
Entah kenapa setelah menulis aku menjadi lega. Aku segera berjalan menuju lokerku. Di lokerku ada surat dan lollipop besar. Aku tersenyum saat memacanya. ‘Keep smile my Princess!’. Aku meletakkan suratku dan mengambil lollipop.
“Maudy!” Panggil seseorang di belakangku. Mia!
“Mia!” Balasku, “Selamat…” Aku gak ikhlas bilangnya…
“Ini!” Ujarnya sambil menyerahkan uang 10.000, “PJ!”
“Makasih!” Aku menyerahkan lollipop tadi, “Ini untuk hadiahmu!”
Mia tersenyum, “Thank you back!”
---oOo---
“Aaaarrggghh…!”
Aku berteriak di atap sepulang sekolah. Sebelumnya aku sudah meminta kunci sekolah. Aku berusaha melepas semua kegalauanku. Aku teriak sampe nangis gak jelas. Aku melirik arlojiku. Sudah 1 jam aku di sini. Aku terduduk karena lelah.
“Kok berhenti?” Tanya seseorang di belakangku.
Aku menoleh ke belakang, “Vino? Kamu ngapain di isni?”
“Nonton pertunjukan,” Jawabnya, “kenapa susah-susah gitu?”
“Memangnya yang gak susah gimana?”
Ia menyodorkan kertas dan bolpoin. Ia menyuruhku menului apa yang sedang kurasakan saat ini. Dan yang membuatku terkejut adalah aku harus membuat 5 lembar.
“Apa kau gila? Tanganku bisa keriting!” Protesku, “Lagian, Cuma ada 1 kertas di sini.”
Ia tersenyum, “Aku masih punya banyak!” ia memperlihatkan sepack kertas.
Dengan malas, aku menuruti perintahnya. 5 lembar terisi sudah. Sekarang ia menyuruhku membuangnya ke tempat pembuangan sampah. Aku mencobanya. Rasanya ada beban yang terangkat dari hatiku. Aku terus melakukannya. Saat kertas terakhir kulempar, aku menangis sejadi-jadinya. Tiba-tiba Vino mendekapku erat. Bukannya menepis, aku malah menangis semakin keras.
---oOo---
Sejak saat itu, aku dan Vino berteman baik. Ternyata pertemananku dengannya berdampak positif. Aku semakin aktif dan terkenal. Tapi akhir-akhir ini aku jarang bertemu Mia. Mungkin ia sibuk dengan Idon. Dan aku juga merasa perasaanku pada Idon perlahan tapi pasti menghilang. Inilah Maudy. Maudy yang baru!
Pagi ini aku berangkat ke sekolah dengan ceria. Pagi ini sangat cerah. Aku membuka lokerku. Terdapat sebuah surat dan coklat. Aku membacanya, ‘Pagi yang cerah. Semangat My Princess!’. Aku membalasnya, ‘Semangat juga My Prince!’. Saat aku akan menaruhnya kembali ke loker, aku segera menambahkan, ‘Kita udah lama curhat, tunjukkin identitas dong!’.
“Hai Mi!” Sapaku sesampainya di kelas. Tapi Mia tak membalasku. Sepertinya ia sedang menghindariku,
“Hai!” Sapa Vino, “Nanti siang ada acara?”
Aku menggelengkan kepala, “Gak, memangnya kenapa?”
“Nanti siang jam 12 tepat datang ke cake shop, ya!” Pintanya, “Ada yang mau kuomongin…”
Aku tak sempat menjawabnya karena guru killerku sudah masuk ke kelas. Kok tiba-tiba aku jadi deg-deg-an gini, ya? Apa sih yang mau dia omongin?
---oOo---
Siang ini jam 12 tepat aku masuk ke tempat janjian. Aku duduk di samping Vino. Kami memesan tisu. Setelah itu kami tak berbicara apapun. Kok tiba-tiba salting gini, ya?
“Jadi apa?” Aku memecah keheningan.
Vino tak menjawab. Ia haya memasangkan headset ke telingaku.
Aku mendengar lagu yang diputarnya. Lyla ‘Takkan Ada’. Ini salah satu lagu kesukaanku. Kok tiba-tiba suasananya aneh gini, ya? Dan kenapa jantungku berdebar-debar? Apa Vino menembakku? Aku menatap Vino. Ternyata ia juga sedang menatapku. Salting, deh…
Aku mencari lagu yang pas untuk menjawabnya. Pandanganku tertuju pada judul lagu Lyla ‘Jantung hati’. Aku menekannya. Vino terlihat terkejut. Aku tersenyum.
“Maaf aku ganti,” Ucapku, “lagu ini lebih bagus!”
Mulai saat in, aku adalah pacar Vino!
---oOo---
Sudah setahun aku menjalin hubungan dengan Vino. Hari ini adalah hari jadi kita. Aku dan Vino akan merayakannya di suatu kafe. Tapi sebelum berangkat, aku menerima telepon dari seseorang.
“Halo?”
“Halo, apakah ini benar nomor Maudy?”
“Iya. Ini siapa?”
“Ini Idon. Aku mau bicara sama kamu di kafe dekat sekolah sekarang!”
Belum saja aku menjawab, Idon sudah memutus kontak.aku bimbang. Hari ini aku juga harus ketemuan sama Vino. Akhirnya kuputuskan untuk menemui Idon terlebih dahulu.
“Hai don…” Sapaku sesampainya di sana.
Ia hanya tersenyum. Aku pun duduk di depannya.
“Jadi apa?” Tanyaku,
“Kamu mau gak jadi pacarku?” Aku terkejut oleh penembakan tiba-tibanya.
Aku membeku. Lidahku kelu. Speechless . aku gak tahu harus menjawab apa. Di satu sisi aku senang akhirnya cintaku terbalas. Tapi di sisi lain aku tak bisa menerimanya karena sudah mempunyai Vino. Aku tak mungkin mengkhianatinya. Tapi saat aku melihat ke mata Idon, aku merasa impianku hampir tercapai.
“Aku mau,” Tanpa sadar aku mengatakannya.
---oOo---
“Maudy?!” Panggil seseorang.
Oh tidak. Vino! Ohya, aku lupa kalau kita janjian di sini. Bagaimana ini?
Reflek aku berdiri, “Vino? Aku bisa jelasin..”
“Kenapa harus hari ini?” Vino terlihat tak percaya, “Ternyata Selma ini aku salah nilai kamu!”
Vino pun melangkah pergi. Aku berusaha mengejarnya tapi Idon menahanku. Vino!
---oOo---
Sudah sebulan aku mengkhianati Vino. Sudah sebulan juga aku dijauhi Mia dan Vino. Kadang aku canggung saat bertemu mereka. Mereka kompak banget hindarin aku!
Saat istirahat, Vino mengajakku ketemu. Sepertinya ia sudah tak marah lagi. Aku segera pergi ke taman belakang. Agak canggung, sih!
“Maudy!” Panggilnya,
“Kenapa?” Tanyaku,
“Jauhi Idon! Ucapan Vino membuatku terkejut,
“Kenapa?” Aku mengulang pertanyaanku dengan nada berbeda,
“Dia gak baik buat kamu!” Jawabnya, “Dia Cuma gunain kau buat manasin Mia doang!”
“Apa?! Gak mungkin! Aku tahu Idon. Dia gak kayak gitu!”
“Aku denger dari dia sendiri!” Vino berusaha sabar, “Maudy, come back to me!”
“Gak! Kamu ngomong gitu biar aku kembali lagi ke kamu, kan?” Tuduhku, “Aku gak akan kembali ke kamu lagi!”
“Terserah kamu, deh!” Ia menyerah, “Yang penting aku udah peringatin kamu!”
“Aku juga mau memberitahu kamu kalau besok jam 9 aku take off ke Calofornia! Dan..” Vino menggantungkan kalimatnya, “Surat di lokermu itu. Itu dari aku!”
Aku memandangnya tak percaya.
---oOo---
Aku melihat bayanganku di cermin.rambutku lurus. Bibirku terpoles lipgloss. Tiba-tiba aku teringat ucapan Vino. Aku menatap arlojiku. 15 menit lagi dia take off. Apa yang harus kulakukan?
Aku pun keluar dari rumah untuk menemui Idon. Terliat ia sedang menghubungi seseorang. Karena teringat ucapan Vino, aku bersembunyi di balik pagar untuk menguping. Aku hanya dapat mendengar suaranya
‘Dia bilang gitu?’
‘Gak, ku gak serius sama Maudy. Aku Cuma pake dia buat manasin Mia doang!’
Apa?! Jadi yang dibilang Vino bener? Aku merasa bersalah. Diam-diam, aku keluar lewat pintu belakang dan menaiki taksi untuk ke bandara. Aku juga meng-sms Idon untuk tetap menungggu. Ha-ha! Rasain! Biar nunggu sampe besok!
---oOo---
Sesampainya di bandara aku segera mecari Vino di tempat Check In. Tapi terlambat. Aku mendengar deru pesawat. Aku pu melangkah keluar. Iya, itu pesawat Vino.
“Vino!!” Teriakku tanpa peduli pada orang-orang yang melihatku bingung. Mungkin mereka pikir aku lagi syuting film kali, ya?
‘Vino, aku bakal nunggu kamu. Aku tahu kamu pasti akan kembali. Aku akan menunggumu sampai hari itu tiba…’ batinku.
---oOo---
Sudah 3 tahun. Lebih. 3 tahun lebih aku menunggu. Sekarang, aku sudah menjadi mahasiswa di UI jurusan kedokteran. Aku termasuk mahasiswa terbaik di sini. Ya, begitulah Maudy yang sekarang.
Mia juga kuliah di universitas dan jurusan yang sama. Kami sudah berbaikan. Dan Idon kuliah di sini jurusan teknik kimia. Mereka berpacaran lagi. Sungguh menggembirakan.
Sementara aku? Aku hanya terus menanti. Tanpa lelah. Tanpa bosan. Tanpa keluhan. Juga tanpa kepastian. Hanya berdiam diri dan menanti. Tanpa jawaban.
Aku biasa berjalan-jalan di taman saat hujan. Menanti pelangi harapan. Setelah pelangi terbentuk, aku memejamkan mata mengharapkan sesuatu. Harapan. Selalu harapan yang sama.
Sama dengan hari ini, aku memejamkan mata. Tiba-tib ada seseorang yang menutup mataku. Aku bingung. Siapa dia? Aku rasa aku di sini sendiri. Apakah malaikat?
“Pelangi yang Indah,” Ucapnya, “Bagaimana menurutmu My Princess?”
The End






