
By
: Anggieta Anggun Pratitis
Maudy. Itu namaku.
Gadis SMA tinggi, cantik (narsis banget!), pendiem, dan cuek. Aku punya sahabat
yang juga teman sebangkuku, Mia. Aku dan dia punya nama panggilan. Aku Momo dia
Mimi. Lucu, kan? Aku suka banget nyanyi. Aku juga kursus gitar. Dan aku juga
punya banyak lagu ciptaanku sendiri. Hebat, nggak?
“Mo, ke kantin, yuk!”
Ajak Mia,
“Malas Mi…” Jawabku
sambil menyenderkan kepala di atas meja,
“Ayo! Nanti aku beliin
permen, deh!” Tawar Mia penuh harap.
Aku tersenyum kecil,
“Memangnya aku ‘Candy’ kayak kamu?” Candy adalah nama julukanku untuk Mia
karena ia suka banget sama yang namanya permen, “Yasudah, ayo!”
Kami melangkah menuju
kantin. Rupanya Mia hanya ingin membeli permen lollipop. Julukan ‘Candy’
ternyata sangat cocok untuknya! Ia memberiku satu. Aku pun menerimanya dengan
malas. Kami kembali ke kelas.
Sungguh masa SMA yang
membosankan!
---oOo---
Duk! Terdengar suara
buku dibanting. Ternyata Idon yang duduk di belakang Mia. Ia memukul Mia dengan
buku catatannya (Pelan). Mia pun berbalik dan mengomeli Idon. Pemandangan yang
tak asing bagiku.
Idon. Iya, benar Idon.
Ia adalah satu-satunya orang diantara lautan manusia di sekolah ini yang tak
membuatku bosan. Matanya yang indah membuatku ingin terus memandangnya. Segala
yang ada pada dirinya benar-benar sempurna! Hidungnya mancung, bibirnya terikir
indah, telinganya sempurna, dan rambutnya, model yang sangat kusukai.
Benar. Kalian benar.
Aku memang menyukainya. Ia yang membuatku ingin pergi ke sekolah. Ia yang
membuatku semangat di kelas. Dan ia yang membuatku dapat merasakan indahnya
cinta. Ia juga yang membutku ingin terus menjalani hidupku ini. Tak pernah
bibir ini mengatakan perasaan ini padanya. Hanya mata yang dapat
mengutarakannya.
“Don, kerjain tugasmu!
Jangan menjahiliku terus..!” Ucap Mia kesal. Tapi Idon hanya tertawa.
Mungkin itu hanya cinta
1 sisi. Sisi lainnya belum terbangun. Atau mungkin tidak akan pernah terbangun.
Tawa itu. Pancaran mata itu. Terungkap sudah. Sisi itu sudah terbangun. Tepat
di hadapan Mia. Aku merasakan 2 perasaan yang berlainan. Senang karena Mia
telah menemukan cintanya. Dan sedih karena tahu cintaku bertepuk sebelah
tangan. Rasanya ingin menangis dan tertawa.
Tuhan, cobaan apa yang
sedang kau berikan?
---oOo---
“Anak-anak, sebelum
memulai pelajaran, saya akan mengelkan siswa baru!” Ucap seorang guru di dalam
kelas. Membosankan. Memangnya ia kira kita ini masih SD?
Tak lama masuklah si
‘Anak baru’. Aku terus menulis lagu tanpa memperhatikannya. Lagi pula, untuk
apa aku memperhatikannya? Tak ada manfaatnya untukku!
“Perkenalkan, namaku
Vino. Vino Candradinata…” Ucap anak baru itu.
Tanganku berhenti
bergerak. Badanku membeku. Vino? Vino Candradinata? Apa benar dia? Tidak
mungkin… bagaimana bisa dia kesini? Huh, perlu kalian ketahui, Vino itu… dia,
cinta pertamaku! Terdengar konyolkah? Mungkin, karena dia benar-benar bukan
tipeku. Boleh saja dia tampan dan keren. Tapi sebenarnya sombong, sok tampan,
over PD, dan menyebalkan. Entah kenapa aku bisa menyukainya. Apa dulu aku sebodoh
itu?
Mimpi apa semalam
sampai aku bisa bertemu dengannya? Aaarrgghh… benar-benar sial aku hari ini!
Aku mengangkat kepala untuk memastikan dia bukan
Vino itu. Akhirnya mata kita bertemu. Benar. Sudah tak bisa menghindar lagi.
Tak bisa…
Ia duduk di depanku.
Aku berusaha menutup mukaku dengan sebuah buku. Aku bisa melihat ia berbalik.
Dengan senyuman yang (tidak) manis, ia memandangku.
“Aku rasa aku
mengenalmu,” Ia mengambil buku yang menutupiku, “Benar. Kau. Maudy, benar?”
Aku meutar bola mataku,
“Memang kenapa kalu iya?”
“Ternyata kau sudah
berubah!” Ucapnya,
“Kau mengenalnya, Mo?”
Tanya Mia,
“Kau belum tahu? Maudy
belum pernah menceritakanku?” Tanya Vino yang dibalas gelengan Mia, “Aku cinta
pertamanya!”
Oh tidak. Terlambat
sudah. Kenapa ia memberitahu Mia?!
“Beneran?” Tanya Mia
tak percaya, “Beneran Mo?”
Terpaksa aku
menganggukkan kepala, “Ya…, tapi itu hanya masa lalu!”
“Ehem! Jangan-jangan
nanti ada yang CLBK, nih!” Ledek Mia,
“Impossible!” Balasku,
“Itu hanya akan terjadi di imajinasimu saja!”
“Cepat kerjakan tugas!
Jangan melihat ke belakang terus!” Bentakku,
“Oh ya, kita belum
berkenalan. Namaku Mia, sahabat Maudy!”
“Oh kau sahabatnya?”
Vino memastikan, “Mau kuceritakan betapa ia tergila-gila padaku dulu?”
“Diamlah!” dia sudah
kelewatan batas!
Ucapan Mia membuatku
semakin kesal, “Kau boleh menceritakannya padaku nanti.”
“MIA!!”
---oOo---
“Bagaimana bisa orang
menyebalkan seperti dia bisa mejadi penyerang yang handal?” Ucap Mia tak
percaya saat Idon mencetak poin di lapangan basket (indoor).
Aku dan Mia sedang
berada di pertandingan basket Idon. Sebenarnya aku malas kesana karena ada
Vino. Tapi karena rengekan Mia, aku terpaksa pergi. Aku mengenakan topi abu-abu
untuk mengelabuhi Vino. Tapi ternyata tak ada gunanya. Ia langsung menyapaku
saat kami datang.
Saat istirahat, Idon
berlari menuju bangku cadangan untuk memina air. Mia pun datang sambil membawa
sebotol air putih. Idon tampak senang. Begitu pula dengan Mia. Tiba-tiba ada
seseorang yang duduk di sampingku. Ah, Vino!
“Kau lagi!” Seruku
kesal, “Kenapa kau selalu mengikutiku?!”
“Kau saja yang selalu
ada di mana pun aku pergi!” Alibinya,
“Alasan saja kau!”
“Kau menyukainya?”
tiba-tiba, ia mengubah topik.
Aku memandangnya
bingung, “Menyukai siapa?”
“Penyerang itu. Idon.
Kau menyukainya, kan? Jujur saja…” Ia terus menanyaiku,
“Memangnya aku kurang
kerjaan apa, menjawab pertanyaan konyolmu itu?” Aku merasa mukaku menjadi
panas, “Mengapa kau kepo sekali tentang kehidupanku?
Senyum di bibir Vino
menghilang, “Jujur saja… aku akan merahasiakannya!”
“Benar. Aku meman
menyukainya!” Oh tidak. Apa yang barusan kukatakan? Aku segera menambahkan,
“Tapi dalam waktu dekat, rasa itu akan sirna!”
“Kau masih puitis.
Memangnya kenapa?” Tanyanya,
“Kar…” Tunggu! “Hei!
Kenapa aku jadi menceritakan ini kepadamu? Sudahlah, cepat turun!”
Aku masih punya banyak
waktu!” Jawabnya sambil menunjuk jam tangannya, “Katakanlah alasannya. Atau kau
mau aku prmalukan di sekolah dengan berkata kau menyukai Idon?”
“Jangan!” Jawabku, “Kau
ini, selalu saja bisa mengancamku. Baiklah, aku akan mengatakannya!”
“Aku memang
menyukainya. Tapi dia tidak meyukaiku. Tidak akan pernah bisa!”
“Kau tahu dari mana?”
“Lihat saja dia!”
Ucapku seraya menunjuk Idon dan Mia, “Idon menyukai Mia. Dan kelihatannya Mia
juga begitu,” Setetes Kristal bening keluar
dari mataku,
“Jangan menangis. Mia
akan khawatir.” Ucapnya, “Kau punya air?”
Aku mengambil air dari
tasku, “Ini!” Aku pun menyodorkannya pada Vino.
Ia menerimanya dengan
senang hati, “Thank’s!”
---oOo---
Siang ini matahari
bersinar dengan terik. Aku mengambil gitar dan melangkah menuju balkon kamarku.
Memainkan senar gitar. Terkadang, menyanyikan sebuah lagu.
“Momo!” panggil
seseorang yang sedang mengulum permen di teras. Ia adalah Mia.
“Mia, masuk saja!”
Entah kenapa, kakiku terasa lumpuh untuk membukakan pintu untuknya,
“Hai!” Sapaku saat ia
berjalan menuju balkon,
“Aku ingin menceritakan
sesuatu padamu!” Ucapnya,
“Apa?” Tanyaku.
Ia segera duduk di
sampngku, “Aku sedang menyukai seseorang!”
“Oh ya?”
Ia menganggukan kepala,
“Kau tahu siapa?”
“Memangnya siapa?”
“Idon!”
Jantungku serasa
berhenti berdetak. Pandanganku membeku. Dengn susah payah, aku menahan air
mata.
“Aku baru sadar kalau
aku menyukainya!” Ujar Mia, “Kira-kira Idon punya perasaan yang sam ga, ya?”
Aku terdiam. Sulit
untuk mempercayai setiap kata Mia.
“Mo?” Mia
menyadarkanku,
“Iya! E, pasti Idon
juga menyukaimu!”
Mia tersenyum, “Aku
ingin mendengar nyanyianmu. Nyanyikan 1 lagu untukku!”
Aku mulai memetik
senar.
‘Tak mudah kuakui,
Bahwa engkau begitu berarti.’
Ini
adalah penampilan terburukku! Hati dan nyanyianku tidak seimbang. Banyak sekali
nadaku yang fals. Tapi sepertinya Mia tak begitu memperhatikannya.aku mulai
menyanyikan reff.
‘Jantung hatiku kuletakkan di jantung hatimu
Kurekatkan erat di nadimu
Mengalir di darahmu…
Dan terbelenggu
Takkan pernah lekang oleh waktu
Semakin melekatdi pelukmu
Hingga akhir aku…’
Mia
bertepuk tangan, “Bagus. Ohya, aku ke toilet dulu, ya!” ia segera melangkah
menuju kamar mandiku.
Aku memetik senar gitar
lagi. Menyanyikan lagu lain.
‘Dan lagi, terjadi peristiwa terperih
Yang selalu kau beri…’
---oOo---
Aku
berjalan lemas menuju lokerku bersama Mia. Tapi betapa terkejutnya aku
mendapati sebuah lollipop dan surat di dalam lokerku. Aku segera mengambilnya.
“Mo,
sepertinya kau mempunyai pengagum rahasia!” Ucap Mia, “Siapa, ya?” Ia kembali
mengulum permennya,
“Apa
komentarmu dengan ini?” Tanyaku setelah membaca surat itu.
Mia
membacanya sejenak, “Romantis. Dia pasti perfeksionis!”
Aku
menatapnya bingung, “Romantis? Ini euh bgt tauk! Sudahlah, ini untukmu saja…”
“Makasih.
Tapi pengagumnya buat kamu aja, ya…” Mia berlari meninggalkanku,
“Hey!”
Aku
meremas surat itu dan membuangnya ke tempat sampah. Siapa sih yang ngirim surat
itu? Bikin malu aja!
---oOo---
Sudah
sebulan kutemukan surat semacam itu di lokerku. Tapi selalu kubuang. Dan surat
itu juga disertai barang yang aneh. Seperti permen, coklat, miniatur, dan
lainnya. Ini pastinya bukan orang iseng! Aku punya pengagum rahasia? Mimpi apa
aku! Kira-kira dari siapa, ya?”
Hari ini aku berangkat
ke sekolah sangat awal. Aku ingin melihat pengagum rahasiaku. Aku berlari
menuju tempat loker. Ada seseorang yang membuka lokerku. Tunggu, dia punya
kuncinya. Pantas. Kukira lokerku rusak.
Dengan cepat ia menaruh
surat dan miniature gitar. Aku tak sempat melihat wajahnya karna ia langsung
lari. Aduh, siapa sih dia? Bikin capek saja!
“Hei tunggu!”
Panggilku. Sepertinya ia tuli. Ia tak memperhatikanku dan terus berlari.
Aku menghentikan lariku
dan melihat lokerku. Sebuah surat dan miniature gitar. Entah kenapa, aku merasa
surat ini begitu penting. Aku pun pergi ke kelas.
Setelah sampai di
kelas, aku segera duduk di baris tengah paling depan. Aku mulai membacanya.
Surat ini terlihat beda dengan surat biasanya yang berisi ‘Hai, bagaimana
harimu kemarin?’, ‘Apa kabar?’, ‘Ini hari yang cerah secerah wajahmu (euh!)!’,
‘Semangat!’.
Kali ini dia bercerita
sesuatu yang agak panjang. Ia bilang, ia sudah menyukaiku saat pertama bertemu.
Ia bilang ia tahu semua rahasiaku. Ia bilang suarak sangat merdu walau ia belum
pernah mendengarnya. Ya begitulah, sebenarnya masih banyak yang ia tulis, tapi
sebuah teriakan membuatku berhenti membaca.
“Ada sesuatu yang
mengejutkan di halaman!”
Tiba-tiba ada sesuatu
yang mendorongu untuk melihatnya. Disana ada sepasang perempuan dan laki-laki
yang dikerbungi banyak orang. Betapa sakit hati ini saat melihat Idon dan Mia
yang dikerubungi. Sudah pasti Idon akan menembak Mia.
Aku berlari menuju
toilet. Menangis sepuasnya di sana. Ini pertama kalinya aku menangis di
sekolah. Tak ada tempat lagi selain di sini. Aku ingin menyeka air mataku
dengan tisu. Tapi tisunya habis. Huh, membuatku bete saja!
Tak lama kemudian, aku
keluar dari toilet. Berusaha untuk tegar. Di depan pintu, aku bertemu dengan
Vino. Kenapa dia selalu ada? Apalagi di waktu seperti ini.
“Apa yang akan kau
lakukan?” Tanyaku serak, “Menertawakanku?”
Ia tak menjawab. Ia
menyodorkan saputangan.
Aku menatapnya bingung,
“Untuk apa itu? Aku tak butuh!”
“Ambil saja!” Ucapnya
seraya meletakkan saputangan itu ke tanganku, “Untuk hadiah kekalahanmu!”
Aku terdiam sejenak,
“Kau ingin mengejekku? Ejek saja sepuasnya!”
“Kenapa kau marah?
Seharusnya kau berterimakasih,” Protes Vino, “Saat ini kau butuh teman curhat.
Mungkin aku bisa…”
Mendengar kata curhat,
aku teringat surat tadi. Aku segera berlari menuju kelas. Mia ada di kantin,
jadi aku bebas di kelas. Aku menulis perasaanku saat ini. Kalimat terakhirku:
‘Kau mau jadi teman curhatku Mr. X?’
Entah kenapa setelah
menulis aku menjadi lega. Aku segera berjalan menuju lokerku. Di lokerku ada
surat dan lollipop besar. Aku tersenyum saat memacanya. ‘Keep smile my
Princess!’. Aku meletakkan suratku dan mengambil lollipop.
“Maudy!” Panggil
seseorang di belakangku. Mia!
“Mia!” Balasku,
“Selamat…” Aku gak ikhlas bilangnya…
“Ini!” Ujarnya sambil
menyerahkan uang 10.000, “PJ!”
“Makasih!” Aku
menyerahkan lollipop tadi, “Ini untuk hadiahmu!”
Mia tersenyum, “Thank
you back!”
---oOo---
“Aaaarrggghh…!”
Aku berteriak di atap
sepulang sekolah. Sebelumnya aku sudah meminta kunci sekolah. Aku berusaha
melepas semua kegalauanku. Aku teriak sampe nangis gak jelas. Aku melirik
arlojiku. Sudah 1 jam aku di sini. Aku terduduk karena lelah.
“Kok berhenti?” Tanya
seseorang di belakangku.
Aku menoleh ke
belakang, “Vino? Kamu ngapain di isni?”
“Nonton pertunjukan,”
Jawabnya, “kenapa susah-susah gitu?”
“Memangnya yang gak
susah gimana?”
Ia menyodorkan kertas
dan bolpoin. Ia menyuruhku menului apa yang sedang kurasakan saat ini. Dan yang
membuatku terkejut adalah aku harus membuat 5 lembar.
“Apa kau gila? Tanganku
bisa keriting!” Protesku, “Lagian, Cuma ada 1 kertas di sini.”
Ia tersenyum, “Aku
masih punya banyak!” ia memperlihatkan sepack kertas.
Dengan malas, aku
menuruti perintahnya. 5 lembar terisi sudah. Sekarang ia menyuruhku membuangnya
ke tempat pembuangan sampah. Aku mencobanya. Rasanya ada beban yang terangkat
dari hatiku. Aku terus melakukannya. Saat kertas terakhir kulempar, aku
menangis sejadi-jadinya. Tiba-tiba Vino mendekapku erat. Bukannya menepis, aku
malah menangis semakin keras.
---oOo---
Sejak saat itu, aku dan
Vino berteman baik. Ternyata pertemananku dengannya berdampak positif. Aku
semakin aktif dan terkenal. Tapi akhir-akhir ini aku jarang bertemu Mia.
Mungkin ia sibuk dengan Idon. Dan aku juga merasa perasaanku pada Idon perlahan
tapi pasti menghilang. Inilah Maudy. Maudy yang baru!
Pagi ini aku berangkat
ke sekolah dengan ceria. Pagi ini sangat cerah. Aku membuka lokerku. Terdapat
sebuah surat dan coklat. Aku membacanya, ‘Pagi yang cerah. Semangat My
Princess!’. Aku membalasnya, ‘Semangat juga My Prince!’. Saat aku akan
menaruhnya kembali ke loker, aku segera menambahkan, ‘Kita udah lama curhat,
tunjukkin identitas dong!’.
“Hai Mi!” Sapaku
sesampainya di kelas. Tapi Mia tak membalasku. Sepertinya ia sedang
menghindariku,
“Hai!” Sapa Vino,
“Nanti siang ada acara?”
Aku menggelengkan
kepala, “Gak, memangnya kenapa?”
“Nanti siang jam 12
tepat datang ke cake shop, ya!” Pintanya, “Ada yang mau kuomongin…”
Aku tak sempat
menjawabnya karena guru killerku sudah masuk ke kelas. Kok tiba-tiba aku jadi
deg-deg-an gini, ya? Apa sih yang mau dia omongin?
---oOo---
Siang ini jam 12 tepat
aku masuk ke tempat janjian. Aku duduk di samping Vino. Kami memesan tisu.
Setelah itu kami tak berbicara apapun. Kok tiba-tiba salting gini, ya?
“Jadi apa?” Aku memecah
keheningan.
Vino tak menjawab. Ia
haya memasangkan headset ke telingaku.
Aku mendengar lagu yang
diputarnya. Lyla ‘Takkan Ada’. Ini salah satu lagu kesukaanku. Kok tiba-tiba
suasananya aneh gini, ya? Dan kenapa jantungku berdebar-debar? Apa Vino
menembakku? Aku menatap Vino. Ternyata ia juga sedang menatapku. Salting, deh…
Aku mencari lagu yang
pas untuk menjawabnya. Pandanganku tertuju pada judul lagu Lyla ‘Jantung hati’.
Aku menekannya. Vino terlihat terkejut. Aku tersenyum.
“Maaf aku ganti,”
Ucapku, “lagu ini lebih bagus!”
Mulai saat in, aku
adalah pacar Vino!
---oOo---
Sudah setahun aku
menjalin hubungan dengan Vino. Hari ini adalah hari jadi kita. Aku dan Vino
akan merayakannya di suatu kafe. Tapi sebelum berangkat, aku menerima telepon
dari seseorang.
“Halo?”
“Halo,
apakah ini benar nomor Maudy?”
“Iya.
Ini siapa?”
“Ini
Idon. Aku mau bicara sama kamu di kafe dekat sekolah sekarang!”
Belum saja aku
menjawab, Idon sudah memutus kontak.aku bimbang. Hari ini aku juga harus
ketemuan sama Vino. Akhirnya kuputuskan untuk menemui Idon terlebih dahulu.
“Hai don…” Sapaku
sesampainya di sana.
Ia hanya tersenyum. Aku
pun duduk di depannya.
“Jadi apa?” Tanyaku,
“Kamu mau gak jadi
pacarku?” Aku terkejut oleh penembakan tiba-tibanya.
Aku membeku. Lidahku
kelu. Speechless . aku gak tahu harus menjawab apa. Di satu sisi aku senang
akhirnya cintaku terbalas. Tapi di sisi lain aku tak bisa menerimanya karena
sudah mempunyai Vino. Aku tak mungkin mengkhianatinya. Tapi saat aku melihat ke
mata Idon, aku merasa impianku hampir tercapai.
“Aku mau,” Tanpa sadar
aku mengatakannya.
---oOo---
“Maudy?!” Panggil
seseorang.
Oh tidak. Vino! Ohya,
aku lupa kalau kita janjian di sini. Bagaimana ini?
Reflek aku berdiri,
“Vino? Aku bisa jelasin..”
“Kenapa harus hari
ini?” Vino terlihat tak percaya, “Ternyata Selma ini aku salah nilai kamu!”
Vino pun melangkah
pergi. Aku berusaha mengejarnya tapi Idon menahanku. Vino!
---oOo---
Sudah sebulan aku
mengkhianati Vino. Sudah sebulan juga aku dijauhi Mia dan Vino. Kadang aku
canggung saat bertemu mereka. Mereka kompak banget hindarin aku!
Saat istirahat, Vino
mengajakku ketemu. Sepertinya ia sudah tak marah lagi. Aku segera pergi ke taman
belakang. Agak canggung, sih!
“Maudy!” Panggilnya,
“Kenapa?” Tanyaku,
“Jauhi Idon! Ucapan
Vino membuatku terkejut,
“Kenapa?” Aku mengulang
pertanyaanku dengan nada berbeda,
“Dia gak baik buat
kamu!” Jawabnya, “Dia Cuma gunain kau buat manasin Mia doang!”
“Apa?! Gak mungkin! Aku
tahu Idon. Dia gak kayak gitu!”
“Aku denger dari dia
sendiri!” Vino berusaha sabar, “Maudy, come back to me!”
“Gak! Kamu ngomong gitu
biar aku kembali lagi ke kamu, kan?” Tuduhku, “Aku gak akan kembali ke kamu
lagi!”
“Terserah kamu, deh!”
Ia menyerah, “Yang penting aku udah peringatin kamu!”
“Aku
juga mau memberitahu kamu kalau besok jam 9 aku take off ke Calofornia! Dan..”
Vino menggantungkan kalimatnya, “Surat di lokermu itu. Itu dari aku!”
Aku memandangnya tak
percaya.
---oOo---
Aku melihat bayanganku
di cermin.rambutku lurus. Bibirku terpoles lipgloss. Tiba-tiba aku teringat
ucapan Vino. Aku menatap arlojiku. 15 menit lagi dia take off. Apa yang harus
kulakukan?
Aku pun keluar dari
rumah untuk menemui Idon. Terliat ia sedang menghubungi seseorang. Karena
teringat ucapan Vino, aku bersembunyi di balik pagar untuk menguping. Aku hanya
dapat mendengar suaranya
‘Dia
bilang gitu?’
‘Gak,
ku gak serius sama Maudy. Aku Cuma pake dia buat manasin Mia doang!’
Apa?! Jadi yang
dibilang Vino bener? Aku merasa bersalah. Diam-diam, aku keluar lewat pintu
belakang dan menaiki taksi untuk ke bandara. Aku juga meng-sms Idon untuk tetap
menungggu. Ha-ha! Rasain! Biar nunggu sampe besok!
---oOo---
Sesampainya di bandara
aku segera mecari Vino di tempat Check In. Tapi terlambat. Aku mendengar deru
pesawat. Aku pu melangkah keluar. Iya, itu pesawat Vino.
“Vino!!” Teriakku tanpa
peduli pada orang-orang yang melihatku bingung. Mungkin mereka pikir aku lagi
syuting film kali, ya?
‘Vino,
aku bakal nunggu kamu. Aku tahu kamu pasti akan kembali. Aku akan menunggumu
sampai hari itu tiba…’ batinku.
---oOo---
Sudah 3 tahun. Lebih. 3
tahun lebih aku menunggu. Sekarang, aku sudah menjadi mahasiswa di UI jurusan
kedokteran. Aku termasuk mahasiswa terbaik di sini. Ya, begitulah Maudy yang
sekarang.
Mia juga kuliah di
universitas dan jurusan yang sama. Kami sudah berbaikan. Dan Idon kuliah di
sini jurusan teknik kimia. Mereka berpacaran lagi. Sungguh menggembirakan.
Sementara aku? Aku
hanya terus menanti. Tanpa lelah. Tanpa bosan. Tanpa keluhan. Juga tanpa
kepastian. Hanya berdiam diri dan menanti. Tanpa jawaban.
Aku biasa
berjalan-jalan di taman saat hujan. Menanti pelangi harapan. Setelah pelangi
terbentuk, aku memejamkan mata mengharapkan sesuatu. Harapan. Selalu harapan yang
sama.
Sama dengan hari ini,
aku memejamkan mata. Tiba-tib ada seseorang yang menutup mataku. Aku bingung.
Siapa dia? Aku rasa aku di sini sendiri. Apakah malaikat?
“Pelangi yang Indah,”
Ucapnya, “Bagaimana menurutmu My Princess?”
The
End






0 komentar:
Posting Komentar